Sabtu, 20 Juni 2015

Warga Ngunut Tolak Pembangunan SPPBE PT.Gangsar Sentosa Petroleum



Ratusan warga dari lingkungan 3 Dusun Pacitan Desa/Kecamatan Ngunut, mengepung kantir Pemkab yang berada dijalan Akhmad Yani TimurTulungagung. Mereka, mendesak pemerintah agar segera menutup pendirian stasiun pengisian dan pengangkutan bulk LPG (SPPBE) milik PT. Gangsar Sentosa Petroleum yang berlokasi dilingkungan 3 Ngunut. Desakan itu, didasari proses perizinan pendirian SPPBE diduga dengan cara memalsukan tanda tangan warga. Selain itu, mereka menilai pendirian SPPBE ditengarai sangat bertentangan dengan standart keamanan yang ditetapkan oleh PT. Pertamina karena berlokasi dikawasan padat penduduk dan padat industry kecil.
Warga juga menduga pengurusan ijin pendirian SPPBE syarat dengan KKN mengingat aturan yang telah ditetapkan pemerintah tidak dihiraukan oleh PT. Gangsar Sentosa Petroleum. Menurut warga, mereka sudah melakukan demo untuk menolak pendirian SPPBE tersebut dan nyatanya aksi penolakan yang disampaikan tidak direspon pemilik SPPBE dan Pemkap Tulungagung.
Selain itu, warga juga merasa tidak pernah dimintai ijin pembangunan SPPBE ini. Mereka mengaku hanya dimintai tanda tangan di atas kertas kosong yang diberi materai dengan alasan untuk pembuatan pagar pambatas. Warga lainnya nustru mengatakan bahwa sebagian warga telah bertemu dengan pihak BPPT sebagai pemberi ijin. Dari pertemuan itu terungkap semakin jelas dugaan penyimpangan yang dilakukan PT. Gangsar Sentosa Petroleum dalam mendirikan SPPBE.
BPPT mengharuskan atau menetapkan bahwa dalam perijinan HO sebagai salah satu syarat pendirian harus menggunakan FOAM dari BPPT. Nyatanya pemilik meminta warga menandatangani kertas kosong. Selain itu, ada hal yang mengganjal lainnya yaitu pihak BPPT menerima bukti tanda tangan persetujuan warga sebagai persyaratan pengurusan ijin diatas kertas FOAM yang dikeluarkan BPPT.
Pembangunan SPPBE oleh PT. Gangsar Sentosa Petroleum yang dimiliki oleh H.Sutrimo memang menimbulkan tanda Tanya warga masyarakat Tulungagung, khususnya warga Kelurahan Ngunut. Sebab, meski tempat yang digunakan untuk pembangunan SPPBE ini, tidak memenuhi kriteria aturan umum mengenai lokasi/penempatan, intensitas dan tata massa bangunan yang diwajibkan Pertamina. Namun, tetap saja SPPBE diijinkan untuk berdiri hingga saat ini. 
Gambar saat warga demo di depan pembangunan SPPBE  
                                 Gambar saat warga demo di depan Kantor Kabupaten Tulungagung

Sabtu, 11 April 2015

Berubahnya Peran Seorang Perempuan Karena Perubahan Budaya Dalam Masyarakat



Di zaman modern ini, seolah batasan siapa pencari nafkah utama menjadi semu. Sebagian keluarga masih mengandalkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sebagian justru ibu yang mampu jadi pencari nafkah terbesar di keluarga. Pada dasarnya, masyarakat beserta pola pikir mereka selalu berkembang. Bersama dengan itu, kebudayaan mereka pun juga akan ikut berubah seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan yang mereka butuhkan dari hari ke hari.
Zaman sekarang keluarga sudah dapat dibedakan menjadi dua yaitu keluarga modern dan keluarga kuno atau klasik. Keluarga kuno atau klasik ini dapat kita katakan sebagai keluarga yang hidup dipedesaan dan masih memegang teguh budaya dari desa tersebut. Sedangkan keluarga modern yaitu keluarga yang konsep-konsep utamanya sudah mulai dipengaruh oleh modernisasi yang terus berjalan hingga sekarang.
Keluarga modern adalah keluarga yang mengikuti trend (perubahan terbaru) sebagai akibat dari penyesuaian-penyesuaian terhadap gejala-gejala baru yang disebabkan oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, seorang wanita yang dulu hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah, sekarang sudah banyak yang mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi dan mereka juga sudah banyak yang bekerja di berbagai sektor baik jasa, dagang, kerajinan, dan lain sebagainya.
Mereka yang dulu hanya dipandang bisa bekerja di dalam sektor domestic atau dengan kata lain perempuan itu harus dirumah, menyapu, mencuci, memasak dan mengurus suami serta anak tapi sekarang seiring dengan perkembangan masyarakat, perempuan-perempuan sudah banyak mendapat kesempatan untuk bekerja di sektor selain rumah tangga. Hal tersebut sebagai bukti bahwa perempuan juga dapat mengerjakan pekerjaan yang dulunya dianggap hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Selain itu zaman sekarang banyak keluarga yang suami dan istri sama-saman bekerja karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan perkembangan zaman perempuan tidak mau lagi hanya berdiam diri dirumah dan menggantungkan ekonominya pada suami.
Perubahan peran perempuan diatas dapat dikatakan sangat cocok dengan Teori Evolusi, dimana teori ini pada dasarnya menjelaskan bahwa perubahan ini memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Untuk dapat perperan dalam sektor informal, seorang perempuan harus melalui berbagai tahapan agar masyarakat dapat percaya bahwa seorang perempuan benar-benar memiliki kemampuan untuk menjalankan pekerjaan itu.

                         cermin perempuan modern yang melakukan tugas domestik sekaligus bekerja